Kamis, 26 November 2015

Rela berbagi suami

       Hidup Berumah tangga adalah impian semua wanita di dunia,menjadi bahagia, rukun dan berkecukupan. Begitu juga yang aku rasakan, perasaan menjemput kebahagiaan, penuh harap dan mimpi.Tapi itu tidak lama, setelah peristiwa itu aq semua menjadi neraka berdarah bagiku.
       Nama saya Anjani, saya seorang wanita jawa berusia 25 tahun, yang hidup merantau di ibu kota.Saya bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan asing ternama. Berstatus sudah menikah dan belum dikaruniai seorang anak.Sering mendengan dongeng - dongen indah ya pernikahan , dalam benak ku begitu lahkehidupan berumah tangga. Tapi jauh dari kenyataan. 
      Saya menikah dengan seorang pemuda dari pulai timur di indonesia, pembawaan nya keras dan tegas. Dari awal berjumpa dengannya sudah jatuh hati kepada lelaki ini. berparas tampan, dan berbudi baik, tidak neko neko dan sederhana. Sikap sederhana nya ini yang membuat aku semakin jatuh hati pada nya. Tiga bulan aq berkenalan dengan nya. kami memutuskan pacaran dan 1 tahun kemudian kami memutuskan menikah.
     Awal nya orang tua ku tidak menyetujuinya. setelah perjuangan panjang akhirnya mereka mau menerima nya. Perbedaan budaya dan adat membuat kami mengalami sedikit kesulitan.Kami harus berusaha menabung untuk mengurus i semua biaya pernikahan kita karena kami berdua sadar kami bukan dari keluarga berkecukupan. kita menjual semua barang yang kita punya dan menguras semua tabungan yang ada. Karena menurut kami, bisa mengumpulkan lagi kelak untuk membeli nya. Dengan usaha yang keras akhir nya kita bisa menikah walaupun dengan upacara yang sederhana. 
     Satu bulan pernikahan ku, semua berjalan sesuai bayangan kita. kita seperti pasangan dua sejoli yang tidak dapat dipisahkan.Hidup rukun dan bahagia,berlanjut di bulan bulan berikut nya kita semakin lekat tak dapat dipisahkan.Sampai di bulan ke lima hal yang tak ku sangka terjadi. Semua harapan itu tercecer. Hatiku lemah berdarah. 
     Di pagi yang segar entah saat itu badan ini tidak kuat bangun dari tempat tidur. karena tidak enak badan, saya memutuskan untuk ijin tidak masuk bekerja. tepat di siang terik, pintu rumah ku diketuk seorang wanita dengan menggandeng anak kecil berusia sekitar 3 tahun.Ku bukakan pelan pelan.Dan begitu kaget nya aku, wanita itu berteriak histeris memukul i ku. aku tidak mengerti apa yang dia alami. Dengan menagis terisak isak ia jelaskan semua yang terjadi padaku.Seperti petir siang bolong, itu benar benar membuat ku sangat terkerjut, kepala ku pusing dan tidak dapat berpikir apa pun, aq cuma bisa menangis meratapi nasib pernikahan ku. aq mencoba bersabar untuk tidak memberitahu suamiku melalui telephone. aq tunggu hingga ia pulang dari bekerja.
    Senja mulai tiba, dari jauh sudah terdengar suara motor suamiku, benar memang dia yang datang, dengan senyum lebar dan mesra dia mendatangiku. Aku tidak sanggup berbicara apa apa. aku hanya terdiam melihat ke sorot matanya. Dia terdiam dan bertanya ada apa dengan ku. Aku tidak bisa berbicara apa pun. aku sebut nama perempuan itu dan anak laki - laki nya tak kuasa air mata ini menetes di pipi. Dia tertegun mendengar kata - kataku,aq cuma bisa menunduk. Terlihat dia sangat kebingungan, aku menjawab dengan sisa tenaga yang ada. " semua terserah kepadamu ", tanpa kata lagi aq pergi ke kamar. selang beberaapa saat dia mengikuti ku ke kamar dan memeluk ku.
Dan dia menceritakan semua kejadian yang sebenarnya secara detail kepadaku.
    hari terus berlalu, masih ada dendam di hati kecil ku. Meskipun itu masa lalu buruk suamiku. aku tetap harus bersabar dan berusaha iklas menerimanya.walau tak segampang itu.suamiku tetap memilih aku karena kita sudah resmi menikah sedangkan tidak dengan wanita itu. Selang beberapa lama aku harus sabar menerima cobaan lain yang datang berturut - turut, wanita itu yang terus berusaha masuk ke dalam rumah tangga ku. dan memanfaat kan keadaan rumah tangga ku. meminta jatah bulanan yang tidak masuk akal, meminta semua aset - aset tabungan kami. dan mengancam apabila tidak diberikan.
    Tidak disitu saja, Dengan keadaan kita yang masih pas pas an tinggal di ibu kota, bisa di bayangkan sangat sulit untuk bisa seperti itu. lagi - lagi saya yang harus sabar mengalah, sabar menerima. sempat terselip dalam doa ku,semoga Tuhan bukakan mata hati perempuan itu. agar segera mengakiri perlakuan nya kepada keluargaku. Dan aku sangat berharap dia mau mencari laki - laki lain untuk membantu nya bertahan sebagai single parent agar tidak seperti ini kepada keluarga ku. Dan sampai saat ini aku harus bersabar dengan keadaanku, aku tidak berani menyalahkan nya, karena aku tahu dia dalam tekanan. Semoga tidak ada yang mengalami hal yang sama seperti ku.. Aminn